Tuesday, June 30, 2009

Medan 419 Tahun

Hari ini, Tanggal 1 Juli 2009, Kota Medan berusia 419 tahun. Kota Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sinambela pada tanggal 1 Juli 1590 atau pada Anggara 10 paha 5 menurut perkalaan Batak.
Dalam usianya yang 419 tahun itu, Medan telah banyak berubah dan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Saat ini Medan adalah kota terbesar di Sumatra dan nomor 3 seindonesia.
Kemajuan Kota Medan, selain karena sebagai ibukota Provinsi Sumatra Utara yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah terutama sektor industri perkebunan, pertumbuhan ekonominya juga dipengaruhi oleh kemajuan Negara-negara yang berdekatan dengannya yaitu Singapura, Malaysia, dan Muangthai.
Sumbangan dari sektor pariwisata tak perlu lagi diragukan. Sumatra Utara punya andalan utama yaitu Danau Toba. Daya tampung perhotelan untuk melayani arus pelancong baik domestik maupun luar negeri menurut pengamatan sudah memadai. Hotel-hotel baru bermunculan, semisal JW Marriot dan Antares dan lainnya. Tinggal lagi kita menunggu rampungnya pengganti Bandara Polonia sebagai gerbang utama untuk dunia internasional.
Mudik Sahali Sataon. Di depan Hotel Danau Toba Internasional, salah satu hotel terbaik di Kota Medan (Foto by Naraja, Desember 2009)
Metropolitan
Salah satu upaya keras yang harus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Utara khususnya Pemerinta Kota Medan dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan ekonomi dan sosial yang begitu pesat adalah pembenahan infrastruktur seperti jalan raya dan listrik dan penataan ruang perkotaan. Jangan sampai listrik yang sering padam dan jalan raya yang sering mengalami kemacetan mengganggu perekonomian. Dari segi tata ruang, sudah saatnya Pemkot Medan menciptakan sejenis “central park” atau Taman Hutan ditengah Kota Medan. Dan bila perlu memelihara Harimau Tapanuli di dalamnya. Daya tarik Medan tentu akan semakin bertambah yang akhirnya juga berujung pada peningkatan pendapatan asli daerah. Upaya-upaya ini hanyalah sebagian dari pekerjaan besar yang menunggu didepan dalam rangka memwujudkan Kota Metropolitan Medan.
Semoga Kota Medan yang kita cintai semakin ‘menjulang’. Horas Kota Medan, The City of Batak. Selamat Ulang Tahun!
Jakarta, 1 Juli 2009
Naraja
(Luhut Rajagukguk Gelar Patuan Naraja)

Wednesday, June 17, 2009

Mengenang “Ahu Si Singamangaraja”! (1858-1907)

Hari ini kita bertafakur! Hari ini, Rabu, 17 Juni 2009, kita mengenang Pahlawan Nasional Si Singamangaraja XII yang gugur tanggal 17 Juni 1907. Kita mengenang patriotisme Sang Singa Bakkara yang tiada duanya di negeri ini dalam melawan penjajahan Belanda. Patriotisme yang tetap hidup di hati sanubari rakyat yang ditinggalkannya. Bagi generasi muda Indonesia, khususnya Batak, semangat kepahlawanan yang diperagakan oleh “Ompui” bisa dijadikan sebagai motivasi dalam meneruskan perjuangan mencapai masyarakat yang bermartabat dan sejahtera!

Si Singamangaraja XII adalah seorang pejuang besar dari Tano Batak. Pejuang dari dinasti Singa Mangaraja Bakkara ini adalah sosok yang tak kenal kata menyerah dalam perang melawan penjajah. Kegigihannya yang tidaklah sebatas kata-kata yang tertulis diatas kertas sejarah, dan keberaniannya bak singa sesuai dengan gelarnya “singa yang melampaui, singa yang tak terlampaui”, serta kesalehannya seperti kain putih “7 dopa” yang melilit di pinggangnya, menjadikan sosok Si Singamangaraja XII sebagai master piece Bangsa Batak sepanjang sejarahnya.
























Patung Pahlawan Nasional “Si Singamangaraja XII” terletak
di Jalan Si Singamangaraja, Medan, Sumatra Utara.
(Photo by Luhut Rajagukguk Gelar Patuan Naraja, Desember 2008)

Dinasti Bakkara

Dinasti Bakkara, nama yang diambil sesuai nama ibukota kerajaan yakni Bakkara, bermula dari lahirnya Tuan Singa Mangaraja I (1511) yang dianggap sebagai inkarnasi Batara Guru di Bumi dan yang diibaratkan sebagai “penjaga ladang yang tak memakai panah atau gembala yang tak memakai cambuk”. Raja yang bertahta di Bakkara juga dianggap sebagai perhinggapan Mulajadi Nabolon. Disamping itu, ada syarat lainnya bagi pribadi raja yakni bahwa setiap sosok “Si Singamangaraja” haruslah ‘orang suci’ atau satrya pinandita. Seorang raja tak boleh bercacat! Tidak berzinah, tidak meminum minuman keras, darah, dan anti perbudakan. Bahkan konon, Si Singamangaraja I menjadi jatuh miskin karena membayar hutang orang dan melepaskan orang-orang yang terpasung. Tradisi ini dilanjutkan terus menerus oleh para Si Singamangaraja berikutnya sampai dengan Si Singamangaraja XII. Pribadi seperti inilah yang menyebabkan mengapa para raja dari Dinasti Bakkara kemudian menjadi popular di mata rakyat, ditakuti, dihormati bahkan oleh musuh-musuhnya.


Siapa Si Singamangaraja XII ?


Si Singamangaraja XII lahir di Bakkara dengan nama Ompu Pulo Batu Gelar Patuan Bosar Sinambela pada tahun 1858 dan ditabalkan menjadi raja di Bakkara pada tahun 1875 ketika beliau masih berumur 17 tahun. Sebagaimana para Sisingamangaraja sebelumnya (I s/d XI), sosok Si Singamangamraja XII harus “saleh” dan “suci”. Menjadi suci di atas rata-rata manusia lainnya tersirat dengan tegas dalam ungkapan lainnya yang melekat pada pribadi Singamangaraja yakni Na pitu hali malim, Na pitu hali solam! Artinya, Tujuh kali saleh, Tujuh kali suci! Kesalehan dan kesucian inilah yang membangun kewibawaannya sebagai pemimpin perang sekaligus adat, kemasyarkatan dan kerohanian di tengah masyarakat Batak. Mengapa Dinasti Bakkara dapat bertahan sampai dengan 12 raja tanpa pernah dikudeta, tak pelak lagi, pastilah karena perilaku ‘saleh’ dan ‘suci’ tadi. (Bandingkan dengan raja-raja di wilayah lain yang mau bunuh-bunuhan bukan saja demi tahta, bahkan demi perempuan! Namun, raja-raja yang bejat seperti itu tetap saja dikenang namanya oleh masyarakat pendukungnya).


Kesalehan dan kesucian Singamangaraja pulalah yang menurut penulis menjadi salah satu alasan kedekatannya dengan Kesultanan Aceh. Seperti kita ketahui bahwa kesultanan Aceh adalah penganut Islam yang kuat, dapat bekerjasama dengan Si Singamangaraja yang menganut Agama Batak. Aceh dan Batak memang memiliki hubungan bathin yang mendalam dikala itu. Bahkan menurut sejarah, Si Singamangaraja XII pernah latihan militer bersama di Aceh selama tiga bulan. Latihan militer ini merupakan lanjutan dari Si Singamangaraja XI yang juga pernah latihan militer di Aceh. Hubungan Batak dengan Aceh memang tak perlu diragukan. Karena itu Perang Batak (1877-1907) sangat berkaitan dengan Perang Aceh (1873-1903). Sejarah dengan jelas mencatat kerjasama pertahanan Batak-Aceh dalam menghadapi Belanda. Selama kerja sama antara Aceh dan Batak, dalam pertukaran prajurit diantara keduanya tidak sekalipun ditemukan adanya penghianat. Semuanya setia sampai mati. Betapa hebatnya kombinasi Aceh dan Batak, khusunya di mata Belanda sehingga untuk menghormatinya, pihak Belanda menempatkan Rencong Aceh dan Pedang Batak secara berdampingan seperti yang terdapat di museum militer, Bronbeek, Arnhem Belanda. (Hormat kita juga untuk ke dua Bangsa ini!)

Perang Batak (1877-1907)

Si Singamangaraja XII, bersama para pembesarnya, memimpin Perang Batak selama 30 tahun (1877-1907) melawan Belanda secara terus menerus. Berpindah dan bergerilia dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari hutan yang satu ke hutan lainnya. Perang Batak dimulai dengan pernyataan Pulas. Pulas adalah deklarasi perang ala Batak. Pulas ditujukan kepada musu tihus, yakni musuh di siang hari dan musuh di malam hari. Musu Tihus pada masa itu adalah Belanda!

Selanjutnya yang terjadi kemudian sebagaimana dicatat dalam buku-buku sejarah adalah meletusnya berbagai pertempuran heroik, dimulai dengan Pertempuran di Bahal Batu (1878), Balige (1883), Pinto, Samosir (1883), Sipoholon (1887, Simanullang Toruan (1889), Uluan (1907), dan lain-lain. Tentu saja berkat keunggulan teknologi perang yang dimiliki Belanda, Si Singamangaraja XII beserta pasukannya terdesak ke hutan-hutan. Selama dalam pengejaran Belanda inilah Si Singamngaraja XII mengucapkan seruannya yang terkenal: “Bukan karena hutang nenekku, hutang ayahku, atau hutangku sendiri makanya aku dikejar-kejar, melainkan karena kehormatan yang dari padamulah ya ompung Mulajadi Nabolon dan karena orang yang bermata hitam”! Itulah teriakan ‘singa’ sang Pemimpin para manusia bermata hitam dari Pulo Sumatra. Kalimat diatas adalah suatu ungkapan amarah yang ditujukan kepada pihak Belanda yang dianggapnya telah menghina Bangsa Batak. Semangat yang terkandung dalam ungkapan tersebut dipeliharanya secara konsisten dalam bentuk perjuangan sampai mati! Tidak ada kompromi. Tidak ada negosiasi. Tak kenal menyerah. Yang ada hanya semangat: Merdeka atau Mati! Semangat merdeka atau mati ini telah lama hidup dalam diri Bangsa Batak sebelum orang lain mengucapkannya pada zaman kemerdekaan. Alhasil dari semangat merdeka atau mati ini adalah suatu konsekwensi yang harus dihadapi Belanda, dimana Belanda dapat menguasai Tanah Batak hanya melalui pengorbanan darah dan materi yang sangat besar. Oleh karena itu tidaklah mengherankan mengapa wilayah Batak menjadi kerajaan di Nusantara ini yang terakhir di kalahkan Belanda.

Gugur Sang Pahlawan

Dengan ringkas, Prof. Dr. WB Sidjabat menggambarkan kehidupan perjuangan Si Singamangaraja XII sebagai berikut:
“Dan setelah Bakkara dalam tahun 1883 dibumihanguskan oleh Belanda, setelah Si Singamangaraja XII luka kena peluru Belanda di Balige, sejak tahun 1884 beliau bersama keluarganya pun terpaksa mengungsi ke Lintong dan seterusnya ke daerah Sionomhudon, Tapanuli Utara hingga akhirnya ia gugur pada tanggal 17 Juni 1907".

Demikian akhirnya, di sebuah hutan di Huta Sionomhudon, Tapanuli Utara, Si Singamangaraja XII beserta pasukannya terkepung dan beliau tertembak peluru seorang pasukan Belanda berdarah pribumi bernama Hamisi. Raja gugur bersama putranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dan putrinya Boru Lopian. Turut serta gugur pula para panglimanya yang telah kita lupakan. Ucapannya yang terakhir sebelum wafat ialah: “Ahu Si Singamngaraja”! Hari yang nahas itu, tanggal 17 Juni 1907, Si Singamangaraja XII gugur meninggalkan kita untuk selamanya. Perang selama 30 tahun pun berakhir oleh sebutir peluru anakbuahnya si Christoffel si penjajah. Berakhirlah riwayat seorang Singa Maharaja terakhir dari Bakkara. Suatu perjuangan yang panjang dan berakhir tragis demi martabat bangsa. Suatu pengahiran tragis terhadap Raja Batak, yang bahkan Belanda pun menyesalinya!
Sebagai penghormatan atas ‘jasa’ tersebut oleh Pemerintah Indonesia beliau dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961. Dan sebagai penghormatan pula, rakyat Sumatera Utara mendirikan patung Si Singamangaraja XII di jalan Si Singamangaraja Medan, Sumatra Utara. (Patung tersebut memang masih mulus, tapi sekitarnya dipenuhi sampah dan gerobak jualan. Kita prihatin, beginilah rupanya caranya Sumatra Utara menghormati Pahlawannya!)

Refleksi


Bagaimana dengan kita pada zaman ini, adakah pemimpin diantara kita, ditengah masyarakat Batak khususnya yang mau meneladani kesalehan dan kesucian Sang Pahlawan tersebut? Siapakah musu tihus bagi kita hari ini? Adakah Pemimpin sekarang ini yang siap mati demi martabat bangsanya? Atau…, apakah kita harus menunggu lahirnya Si Singamangaraja 13?


Jakarta, 17 Juni 2009

Naraja
(Luhut Rajagukguk Gelar Patuan Naraja)

Catatan: Dari berbagai sumber. Sumber Utama: Buku “Ahu Si Singamangaraja”, Prof. Dr. WB Sidjabat, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2007.

Friday, May 29, 2009

Tahanan Peristiwa 3 Februari 2009


Sampai hari ini, belum ada keputusan hukum atas pendukung Provinsi Tapanuli yang ditahan sejak peristiwa demonstrasi di Gedung DPRD Sumut tanggal 3 Februari 2009 yang lalu. Informasi terakhir yang penulis peroleh dari tahanan Poltabes Medan, setidaknya ada 28 orang yang masih ditahan disana. Mereka ditahan bersama-sama dengan pelaku criminal yang jumlahnya ratusan. Disana sebutan tahan ada 2, yakni tahanan umum dan tahanan “Protap”, maksudnya pendukung tapanuli. Kondisi fisik mereka sangat memprihatinkan, wajah pucat dan baju dibuka karena kepanasan. Satu hal yang dapat menenangkan perasaan adalah sikap professional para polisi penjaga tahanan yang ramah dan bersahabat tapi tetap tegas. Inilah yang agak menetralisir suasana panas di lingkungan tahanan yang sesak.

Mahasiswa

Dari daftar nama tahanan, terdapat 9 berstatus mahasiswa. Perasaan saya agak trenyuh menyaksikan wajah-wajah polos tapi mencerminkan semangat perjuangan. Mereka tak banyak berkomentar, sekalipun kita berada persis di depan sel tahanan. Tapi kita dapat merasakan keinginan mereka untuk segera bebas. Atau setidaknya status mereka segera diputuskan melalui pengadilan.
Protap

Ketika penulis mendekat sel, beberapa orang dari mereka yang berada dekat jeruji penyekat langsung bertanya: “Protap?” Maksudnya keluarga pendukung Protap. Ya, saya jawab. Sembari berbincang-bincang ala kadarnya, penulis menanyakan jumlah yang ditahan sejak peristiwa 3 Februari 2009, siapa saja dan dimana saja ditahan. Penulis mendapat jawaban, kurang lebih enampuluhan jumlah yang ditahan. Di sel Poltabes sendiri terdapat kurang lebih 28 orang, sisanya ditahanan lain seperti di Poldasu. Sebelum pulang, penulis mendapatkan daftar nama-nama yang ditahan, baik yang di sel Poltabes, maupun di tempat lainnya. Jumlahnya 50 orang, mungkin jumlah inilah yang dapat mereka ingat. Inilah nama-nama dalam daftar itu:
  1. P Julianus Sitanggang, SE
  2. Haksa F Sinambela (Mahasiswa)
  3. Eli Syahputra Tambunan (Mahasiswa)
  4. Drs. Tahan Manahan Panggabean
  5. Drs. Nurdin Manurung
  6. Jumpa Sihombing (Mahasiswa)
  7. Drs. Baharudin Rajagukguk
  8. Drs. Rudolf Marpaung
  9. David Saragih (Mahasiswa)
  10. Erwin Sutanto Simanjuntak
  11. Robert Hutagalung
  12. Ganda Hutasoit (Mahasiswa)
  13. Maraga Banjarnahor (Mahasiswa)
  14. Roni Situmorang (Mahasiswa)
  15. Roy Sinaga (Mahasiswa)
  16. David Nainggolan (Mahasiswa)
  17. Darwin Sibarani
  18. Drs. Burhanudin Rajagukguk
  19. Hasudungan Silaen
  20. Rijon Manalu
  21. Candra Manurung
  22. Drs. Victor Siahaan
  23. Drs. Juhal Siahaan
  24. Martunggul Panjaitan
  25. Sopan Simanungkalit
  26. Iwan Hutagalung
  27. Lambok Nainggolan
  28. Timbul Simbolon
  29. Lintong Lumban Toruan
  30. Vinci Hutagaol
  31. Toman Yansindo Sinaga
  32. Erwin Josua Tarigan
  33. Fernando Situmorang
  34. Anju Naibaho
  35. Cris Sitepu
  36. Lunggu Pasaribu
  37. Roy Frans Sagala
  38. Rony Sibagariang
  39. Dedy Nainggolan
  40. Robert Sitorus
  41. Matatia J Sibuea
  42. Cristian Manurung
  43. Rokky Sianturi
  44. Juliandy Sitompul
  45. Stepen F Sembiring
  46. Imanuel Lumban Tobing
  47. Nasrul Simbolon
  48. Urat Sihombing
  49. Poltak Panjaitan
  50. Gelmor Samosir


Tekad dan Doa

Agar perjuangan mereka ini tidak sia-sia, atau disia-siakan oleh pihak lain, mari kita dukung mereka dengan menyatukan tekad dan doa. Semoga Provinsi yang kita impikan dapat terwujud segera. Amin.
Demikian laporan dari Medan. ( 24 Mei 2009)

PaxBataica!
Horas.
Naraja
(Luhut Rajagukguk Gelar Patuan Naraja)

Friday, April 10, 2009

Keberadaan TAMBAK Di Tanah Batak Dapat Mendukung Pariwisata


Di seluruh Tanah Batak dapat kita saksikan banyak bangunan makam-makam keluarga. Tidak seperti umumnya di dunia modern, dimana pemakaman ditempatkan di suatu areal khusus dan dinamai 'Pemakaman Umum'. Di Batak, nyaris tak dikenal istilah 'pemakaman umum', tapi pemakaman keluarga. Makam ini disebut Tambak. Tambak berbeda dari kuburan. Kuburan adalah tanah yang digali untuk menguburkan orang yang meninggal. Membuat kuburan tak perlu berpesta, selain 'pesta' penguburan itu sendiri.

Sedangkan Tambak adalah suatu bangunan untuk menampung tulang-belulang sekelompok keluarga yang telah digali dari kuburan kemudian ditaruh dalam suatu peti terbuat dari kayu. Peti tersebut kemudian dimasukkan ke dalam 'lubang' persegi terbuat dari beton. Setelah sebuah Tambak selesai dibangun, kemudian diadakan upacara 'pemakaman kembali' tulang-belulang yang telah diangkat dari kuburan, pada saat inilah berlangsung suatu pesta 'besar'. Disebut pesta besar karena biasanya membutuhkan dana yang relatif besar dan dihadiri oleh para keturunan yang 'dimakamkan kembali' itu. Para keturunan ini bisa saja berdatangan dari seantero Nusantara, bahkan mancanegara.

Tujuan

Tujuan pembangunan Tambak, menurut hemat penulis, ada tiga, yaitu:
1. Untuk menghormati arwah para orangtua atau leluhur;
2. Untuk sarana berkumpul para keturunan dalam bentuk ziarah;
3. Untuk menunjukkan status sosial keluarga;

Bentuk dan Warna

Bentuk Tambak sebagian besar didominasi oleh struktur Ruma Batak yang ditambah dengan simbol keagamaan yakni Salib. Bentuk Tambak ini banyak yang menarik, tapi warnanya 'kampungan'. Tambak-tambak yang umumnya berstruktur beton biasanya dipasangi keramik, sedangkan 'Ruma Batak' yang dibangun di atas Tambak diberi warna-warni. Pemasangan keramik dan pemilihan warna inilah yang menurut hemat saya yang sering 'merusak pemandangan'. Merusak pemandangan karena lokasi Tambak justeru sering di lokasi yang strategis, terutama di wilayah yang menjadi daerah tujuan wisata, seperti Samosir. Menurut penilaian penulis, jumlah Tambak yang menarik untuk dipandang hanya hitungan jari dibandingkan dengan ratusan yang 'kampungan' tadi. Kampungan karena pembuatnya berusaha tampil 'modern', tapi malah jadi 'kuno'! Itulah, maksud hati para pembuat tambak ingin berkesan modern dan menunjukkan status sosial yang tinggi karena 'merasa' sudah 'jadi' atau sukses, apa mau dikata, tambak (bentuk dan warna) malah tampil kampungan !





Mendukung Pariwisata

Saya sebagai wisatawan lokal sempat berhenti di beberapa lokasi Tambak yang menarik tersebut, seperti di Tambak dari keluarga Simarmata di Kecamatan Simanindo(?), Pulo Samosir, dan juga 2 makam keluarga lainnya masih di Pulo Samosir, saya lupa marganya (Lihat Foto, @Naraja)). Menurut saya, bukan tidak mungkin keberadaan makam-makam keluarga( Tambak) di seantero Tanah Batak menjadi daya tarik tersendiri yang dapat mendukung peningkatan arus wisatawan, tidak saja lokal tapi juga dari mancanegara.


Dukungan Pemerintah Daerah



Jika saja Pemerintah Daerah di wilayah Tanah Batak, khusunya yang menjadi daerah tujuan wisata dapat memberikan perhatian yang memadai terkait dengan pendirian makam-makam tersebut, niscaya pembangunan Tambak oleh masyarakat Batak dapat menopang pengembangan pariwisata. Perhatian Pemerintah Daerah bisa dalam bentuk penegakan aturan Tata Ruang dan pembakuan bentuk umum Tambak yang boleh dibangun. Bentuk ini dirancang oleh Pemerintah Daerah dengan melibatkan para arsitektur dan seniman Gorga (ukir) Batak. Mudah-mudahan harapan ini terwujud.
Demikianlah.


PaxBataica!
Horas.

Naraja
(Luhut Rajagukguk Gelar Patuan Naraja)

Tuesday, March 31, 2009

Pemda Sumut Tak Peduli Sejarah Kota Medan

Saya banyak dengar dan baca berita, betapa Pemerintah Kota Medan/Pemprov Sumatra Utara kurang peduli terhadap pembangunan patung Guru Patimpus, Sang Pendiri Kota Medan. Alasan saya mengatakan itu:

  1. Pembangunan patung tersebut ternyata adalah hasil swadaya masyarakat Batak Karo! (Keterlaluan!);

  2. PemdaSumut tak sedikitpun rupanya terlibat mengkaji pembuatan patung tersebut. Kenapa? Nama Patimpus ditambah dengan kata : Sembiring-Pelawi. Padahal, adalah Panitia Penyusun Hari Jadi Kota Medan pada Tahun 1973 yang telah melakukan riset dengan menggunakan Naskah Hamparan Perak sebagai sumber utama, dimana menurut dokumen tersebut jelas dinyatakan bahwa Patimpus lahir di Bakerah (Bakkara). Tidak hanya itu, disebut pula, bahwa Guru Patimpus adalah cucu Si Singamangaraja yang jelas dari marga Sinambela. Lalu apa masih ragu, bahwa Guru Patimpus itu Sinambela? Siapa gerangan biang kerok dibelakang masalah ini? Masalahnya bukan sekedar nama. Coba kita bayangkan, Italia salah menuliskan pendiri Roma menjadi Romusha, yang seharusnya Romulus! Atau Sudirman menjadi Sudirham?

  3. Masalah ketidakpedulian Pemda Sumut ini sungguh kerlaluan. Coba lihat lokasi patung itu: Di bundaran Jalan Gatot Subroto-Jalan S. Parman menuju Jalan Kapten Maulana Lubis! (Judul berita yang dirilis Pemkot Medan). Lebih berkuasa rupanya si gatot subroto dan si s parman dibanding Sang Pendiri Kota Medan itu?!! Bandingkan dengan patung-patung di Jakarta yang bertebaran itu....!

  4. Sebagai tambahan data tentang ketidakperdulian Pemda Sumut tadi, pergilah ke Patung Si Singamangaraja XII di Jalan Si Singamangaraja Medan, ....sampah berserakan disekitarnya! Sungguh terhina kita ini...!
Catatan: Kepada Saudara-saudara dari Karo yang telah bersedia rugi berswadaya demi mengabadikan 'pahlawan' kita itu, saya menyampaikan salut!

Penyebab

Salah satu Penyebab Utama atas ketidakperdulian ini adalah bahwa sekarang ini, sekali lagi sekarang ini, para pengambil keputusan di jajaran Pemda Sumut sudah terlalu banyak non Batak! ( Kekecualian bagi Melayu). Ini bukan sara, tapi keterlaluan! Ini mungkin akibat kebijakan rekrutmen pegawai pada masa lalu. Akibatnya, banyak hal menyangkut pelestarian dan pengembangan warisan kebudayaan/sejarah Batak terabaikan!

Pesan

Ayo, para generasi muda, sadarilah itu! Bangkitlah dari kebodohan dan jangan tiru para pendahulumu yang konyol itu!

PaxBataica!
Horas.

Naraja.
(Luhut Rajagukguk Gelar Patuan Naraja)

Thursday, March 26, 2009

Pendiri Kota MEDAN

Kota Medan didirikan Guru Patimpus Sinambela pada tanggal 1 Juli 1590 atau pada 'Nggara 10 paka 5' menurut perkalaan Batak. Guru Patimpus Sinambela adalah cucu Si Singamangaraja melalui anaknya yang bernama Tuan Siraja Hita. Tuan Siraja Hita adalah anak kedua dari Jalipa. Anak pertama dari Jalipa ini yang bernama Tuan Manjolang kemudian menjadi Singa Mahraja di Bakerah (Bakkara). Karena abangnya Tuan Manjolang sudah menjadi Raja, Tuan Siraja Hita kemudian merantau, dan dengan menempuh perjalanan bertahun-tahun akhirnya sampailah ia ke Gunung Si Bayak.

Dari Gunung Si Bayak kemudian sampai di Kendit. Di sana, Tuan Siraja Hita kemudian membuka kampung, itulah keturunan Karo Sepuluh Dua Kuta (Toba: Sappuludua Huta, naraja) yang sekarang ini. Tuan Siraja Hita kemudian kembali ke Bakkara. Kawin di sana dan memperoleh 3 anak laki, yang tua Timpus, tengah si Pakan, dan yang kecil si Balige. Si Pakan dan Si Balige kemudian menjadi raja, masing-masing di Pakan dan di Balige. Sedangkan si Timpus pergi ke hutan mencari ilmu. Sepulang dari hutan ia oleh orang-orang memanggilnya Guru Patimpus.
Guru Patimpus pertama kawin dengan putri Ketusing dan mendapat 7 orang anak. Yang pertama Sibenara, kedua si Kuluhu, ketiga si Batu, keempat si Salahan, kelima si Paropa, keenam si Liang Tanah, dan ketujuh anak perempuan dikawinkan dengan Raja Tangging. Guru Patimpus selalu membuka kampung dan menamai kampung tersebut sesuai dengan nama anak-anaknya.
Setelah mendengar di Karo ada huru-hara, ia pun kesana dan memadamkan kegaduhan tersebut. Di sana ia kawin yang kedua dan mendapat anak 2 orang yakni, Si Gelit dan Si Jahei. Setelah menyelesaikan kegaduhan di Batu Karang, iapun kawin yang ketiga dan memperoleh anak, yaitu si Ajji. Untuk si Ajji dibuka kampung bernama Perbaji. Tak berapa lama kemudian ia mendapat anak lagi dan diberi nama Si Raja Hita (mengambil nama bapanya, naraja) dan membawa si Raja Hita ke dusun Langkat mencari tanah yang baik, yang kemudian tanah itu diberi nama Durian Kerajaan dengan Si Raja Hita menjadi raja di sana. Ketika inilah Guru Patimpus mendengan kabar: "...Jawi said datang dari negeri Jawa..."

Mendirikan Kampung Medan

Setelah bertemu dengan Datuk Kota Bangun dan masuk Islam, Guru Patimpus kemudian tinggal di kuala Sungai Sikambing. Setelah kawin yang keempat dengan putri Panglima Hali raja bangsa Tarigan dari dusun Berayan, ia pun pindah dan membuat kampung Medan. Setelah selesai mendirikan kampung Medan, ia memerintah disana. Di sinilah ia mendapat anak lagi yaitu si Kolok dan Si Kecik. Sebelum ia masuk Islam, ia mengatakan: "....aku pikir jikalau aku tiada masuk Islam, tentulah tanah kita yang dekat laut diambil oleh Jawi dari seberang..."

Riwayat Hamparan Perak

Cerita di atas bukan dongeng, tapi sejarah yang terekam di dalam naskah Hamparan Perak. Dokumen Hamparan Perak inilah yang dijadikan sebagai salah satu bahan riset oleh Panitia Penyusun Hari Jadi Kota Medan yang diketuai oleh Prof. Mahadi, SH , dimana pada hasil rapatnya yang terakhir Tanggal 24 Oktober 1973 mengemukakan, bahwa: " Kuta Medan didirikan oleh Guru Patimpus sendiri pada tanggal 1 Juli 1590 pada 'Nggara 10 paka 5' menurut perkalaan Batak"

Simpulan:

Pendiri Kota Medan adalah GURU PATIMPUS SINAMBELA. Ia adalah cucu Si Singamangaraja I dari Dinasti Singamangaraja dari negeri Bakkara yang bermarga SINAMBELA.
Saran:

  1. Kepada generasi muda Batak jangan lupakan sejarah ini!;

  2. Patung Guru Patimpus di salah satu sudut Kota Medan yang dibawah namanya tertulis " Sembiring Pelawi" harus diralat dan diganti dengan "Sinambela-Boru Tarigan" (Boru Tarigan adalah istrinya ketika mendirikan Kampung Medan);

  3. Penghargaan kepada Guru Patimpus Sinambela tidaklah layak hanya sebuah patung, tapi Pemerintah Daerah Sumatera Utara sudah sepatutnya mengabadikan namanya, semisal nama Universitas, Bandara Internasional untuk Kualanamu, Gedung Pemerintahan, atau lainnya yang layak.
Demikianlah.
PaxBataica!
Horas.
Naraja.
(Luhut Rajagukguk Gelar Patuan Naraja)
***Referensi: Buku "Sejarah Batak" karya Batara Sangti (Ompu Buntilan Simanjuntak), 1977, H.211-226.