Selasa, 31 Maret 2009

Pemda Sumut Tak Peduli Sejarah Kota Medan

     Saya banyak dengar dan baca berita, betapa Pemerintah Kota Medan/Pemprov Sumatra Utara kurang peduli terhadap pembangunan patung Guru Patimpus, Sang Pendiri Kota Medan. Alasan saya mengatakan itu: 1.    Pembangunan patung tersebut ternyata adalah hasil  swadaya masyarakatBatak Karo! (Keterlaluan!);       2.   PemdaSumut tak sedikitpun rupanya terlibat mengkaji pembuatan patung tersebut. Kenapa? Nama Patimpus ditambah dengan kata : Sembiring-Pelawi. Padahal, adalah Panitia Penyusun Hari Jadi Kota Medan pada Tahun 1973 yang telah melakukan riset dengan menggunakan Naskah Hamparan Perak sebagai sumber utama, dimana menurut dokumen tersebut jelas dinyatakan bahwa Patimpus lahir di Bakerah (Bakkara). Tidak hanya itu, disebut pula, bahwa Guru Patimpus adalah cucu Si Singamangaraja yang jelas dari marga Sinambela. Lalu apa masih ragu, bahwa Guru Patimpus itu Sinambela? Siapa gerangan biang kerok dibelakang masalah ini? Masalahnya bukan sekedar nama. Coba kita bayangkan, Italia salah menuliskan pendiri Roma menjadi Romusha, yang seharusnya Romulus! Atau Sudirman menjadi Sudirham?
3.    Masalah ketidakpedulian Pemda Sumut ini sungguh kerlaluan. Coba lihat lokasi patung itu: Di bundaran Jalan Gatot Subroto-Jalan S. Parman menuju Jalan Kapten Maulana Lubis! (Judul berita yang dirilis Pemkot Medan). Lebih berkuasa rupanya si gatot subroto dan si s parman dibanding Sang Pendiri Kota Medan itu?!! Bandingkan dengan patung-patung di Jakarta yang bertebaran itu....!
4.     Sebagai tambahan data tentang ketidakperdulian Pemda Sumut tadi, pergilah ke Patung Si Singamangaraja XII di Jalan Si Singamangaraja Medan, ....sampah berserakan disekitarnya! Sungguh terhina kita ini...! 
Catatan:  Kepada Saudara-saudara dari Karo yang telah bersedia rugi berswadaya demi mengabadikan 'pahlawan' kita itu, saya menyampaikan salut!
Penyebab 

Salah satu Penyebab Utama atas ketidakperdulian ini adalah bahwa sekarang ini, sekali lagi sekarang ini, para pengambil keputusan di jajaran Pemda Sumut sudah terlalu banyak non Batak! ( Kekecualian bagi Melayu). Ini bukan sara, tapi keterlaluan! Ini mungkin akibat kebijakan rekrutmen pegawai pada masa lalu. Akibatnya, banyak hal menyangkut pelestarian dan pengembangan warisan kebudayaan/sejarah Batak terabaikan!
Pesan 

Ayo, para generasi muda, sadarilah itu! Bangkitlah dari kebodohan dan jangan tiru para pendahulumu yang konyol itu!

Horas,

5 Comments:

  1. Thanks Elenka
    Apa yang kau ketahui yang baik-baik tentang Batak, apa itu ttg keindahannya, sejarahnya, dll...ceritakanlah kpd teman-temanmu.

    Horas.

    raja
    BalasHapus
  2. setuju!.. setuju!... tp maklum sih, skrg ini pemerintah sumut khususnya orang batak dah didesak ya bukannya apa-apa.. tp klo kebanyakan pendatang gimana mau ngurusin kebudayaan batak, sprti ngurusin pahlawannya..
    BalasHapus
  3. Lucu deh baca tulisan elo ini..Guru Patimpus tu semua sumber sejarah menyatakan bermarga Sembiring Pelawi. Bukannya Sinambela.
    Kalau emang mau tau sapa yg jadi biang kerok tentang marga Sinambela ini..pastinya elo punya orang. Ga salah dari dulu kalau orang karo nyebut Toba itu TEBA (RAKUS)
    BalasHapus
  4. Guru Patimpus Sinambela? Ini sumbernya: Buku "Sejarah Batak" karya Batara Sangti (Ompu Buntilan Simanjuntak), 1977, H.211-226.
    BalasHapus