![]() |
| Sisingamangaraja XII |
Opera Batak :
Pahlawan Sisingamangaraja XII
Pelakon :
Siswa Siswi Sekolah Menengah Atas Seminari Menengah Christus Sacerdos, Pematang
Siantar, SumateraUtara
Pemeran Utama : Ari Saragih
Pendukung :
Paduan Suara SMA Budi Mulia, SMA Bintang Timur, SMA Asisi Pematang Siantar
Pelatih Bahasa : Pastor Petrus Simarmata
Naskah :
Serpulus Tano Simamora
Tata Rias :
Risma Roharta Damanik
Penata
Musik : Panjotik Silaen
Tempat : Taman Budaya Sumatera Utara,
Medan
Sutradara : Sultan Saragih
Saat Remaja Memanggungkan Sisingamangaraja XII
Oleh: Aufrida Wismi Warastri
Memanggungkan sebuah cerita
kepahlawanan dalam balutan seni tradisi seperti opera Batak bukanlah perkara
gampang, apalagi jika dilakukan para remaja berusia sekitar 15-17 tahun.
Namun, penampilan para siswa
Sekolah Menengah Atas Seminari menengah Christus Sacerdos, Pematang Siantar,
Sumatera Utara, (SMA SMPS) dalam Opera Batak : Pahlawan Sisingamangaraja XII)
di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Medan, akhir tahun lalu, membuat ratusan
penonton yang memenuhi gedung TBSU tak beranjak hingga pertunjukan selama 2,5
jam itu usai.
Apalagi, penonton disuguhi
gondang dan paduan suara SMA SMPS yang enak didengar. Ini masih ditambah
penampilan yang juga didukung para siswa SMA Budi Mulia, SMA Bintang Timur, dan
SMA Assisi Pematang Siantar. Jumlah penampil total 96 orang, termasuk pemusik
dan kelompok koor.
Bagi masyarakat Batak, khususnya
Batak Toba, Sisingamangaraja (SM Raja) XII bukan hanya seorang pahlawan yang
diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional. Dia adalah pahlawan yang ada di
hati masyarakat Batak sehingga keberadaannya sering dikultuskan sebagai sosok
sakti nan magis.
Dalam opera Batak kali ini, SM
Raja XII digambarkan sebagai manusia lumrah yang berkarisma. Dia mampu
menyatukan banyak orang untuk berjuang melawan Belanda. Sosok pemberani ini
kemudian tewas ditembak tentara Belanda karena penghianatan panglimanya
sendiri.
Bahasa Batak Toba
Seluruh cerita pertunjukan ini
menggunakan bahasa Batak Toba, kecuali dialog tentara Belanda yang menggunakan
bahasa Indonesia. Banyak ungkapan dalam bahasa Batak lama yang dilafalkan
dengan “fasih” oleh para siswa SMA berkat pelajaran dan latihan yang diberikan
anggota staf SMA SMPS, Pastor Petrus Simarmata.
“Saya heran mereka bisa melafalkan
dengan baik. Banyak bahasa yang bahkan sudah tidak saya pahami,” tutur Agustinus Zulkarnain Sitompul, alumnus
SMA SMPS dan juga pemrakarsa pentas di kota Medan.
Mereka yang mengerti bahasa Batak
“setengah-setengah” dipastikan bakal membutuhkan penerjemah…
Adegan demi adegan bergulir
sesuai dengan cerita sejarah SM Raja XII. Penulis naskah, Serpulus Tano
Simamora, taat pada pakem. Cerita dimulai dengan adanya laporan peperangan yang
sengit di wilayah Balige. Pasukan Belanda semakin mendekat ke Bakkara (ibukota
kerajaan, Bataica).
“Oppung, ngarobe si bontar mata i,” tutur seorang pengikut SM Raja
yang melaporkan si mata putih (Belanda) sudah datang.
SM Raja digambarkan seperti dalam
foto pahlawan nasional, berbadan tegap dan berewokan. Tampaknya sutradara
Sultan Saragih kesulitan menemukan pemeran berperawakan besar.
Namun Ari Saragih, siswa kelas IX
yang berperawakan kecil mampu menampilkan SM Raja sebagai tokoh cukup berwibawa
serta bisa merangkul tentara Aceh dan Padang agar turut berjuang bersama
pasukan SM Raja.
Adegan Gondang Sabangunan atau
gondang memohon rida dari Mula Jadi Nabolon (Yang Maha Kuasa) sebelum
pertempuran melawan penjajah cukup membuat penonton kagum. Para siswa sekolah
menengah itu manortor dengan gerakan
yang sangat halus.
Meskipun SM Raja XII telah
mengingatkan jangan ada penghianatan, tetap saja panglima SM Raja, Ompu Somahap
Doli, bersama istrinya, Ompu Somahap Boru, memilih berkhianat. Jadilah adegan
selanjutnya adalah pertikaian antara pengkhianat dan pejuang dan bagaimana
tentara Belanda mengintimidasi para panglima SM Raja yang tertangkap.
Di sisi lain, adegan lucu pun
ditampilkan dalam dialog antara penduduk dan tentara Belanda yang tengah
mencari para panglima SM Raja.
Adegan mencapai klimaksnya saat
SM Raja XII ditembak oleh tentara Belanda di hutan Aek Simonggo, Sionomhudon,
Parlilitan. SM Raja XII tewas setelah putri yang dikasihinya, Siboru Lopian,
tewas.
Jasad SM Raja XII diusung tentara
Belanda berkeliling panggung diiringi suara koor SMA SMPS yang membawakan “Goarmi
Mangolu Do” atau Namamu Tetap Hidup, yang diaransemen Panjotik Silaen dengan
bagus. Adegan ini mampu mengiris hati hadirin yang pada dasarnya adalah
penonton fanatik.
Empat bulan
Secara keseluruhan, para siswa
SMA itu berhasil menampilkan opera Batak dengan menarik setelah empat bulan
berlatih keras. Tata rias yang dilakukan Rima Roharta Damanik juga mendukung
opera.
Sayang, tata cahaya, terutama lampu sorot yang diharapkan bisa membuat fokus
adegan, justeru sering mengganggu penonton karena tidak konsisten.
Para pemusik gondang dan aggota koor yang menjadi pendukung cerita
seolah diabaikan dengan menempatkan mereka di bagian kanan-kiri penonton. Posisi
mereka pun rata dengan penonton.
Rasanya akan lebih baik jika mereka ditempatkan di panggung kecil di
kanan-kiri panggung. Lampu sorot yang ditujukan kepada mereka pun justeru
terasa mengganggu karena beberapa penonton jadi ikut terkena lampu sorot. (huruf tebal, Bataica)
Meskipun para aktor opera Batak
adalah calon pastor, para pendukung acara tersebut berasal dari lintas agama
dan lintas gereja.
Sebelum pentas di Medan, para
siswa ini telah pentas di Pematang Siantar. Mereka juga berencana pentas di
Jakarta untuk mencari dana guna renovasi sekolah mereka yang rusak, pada
petengahan 2012.
Melihat pertunjukan ini, ada rasa
bangga. Ternyata masih banyak anak muda yang mencintai budaya sendiri.
(AUFRIDA WISMI WARASTRI)
HARIAN KOMPAS, Jumat, 27 Januari
2012
Horas,

Catatan Bataica:
ReplyDelete1. Salut dan ucapan terima kasih kepada para pihak dan para pendukung terselenggaranya pementasan Opera Batak ini;
2. Masukan dari Sdr. Aufrida Wismi Warastri/KOMPAS sangat baik untuk perbaikan ke depan. Kekurangan dalam pementasan ini sebagaimana dilaporkan di atas, memang dapat dimaklumi karena para pendukung bukanlah professional, tapi 'hanyalah para remaja' yang mencintai sejarah pahlawan dan budayanya. Sekali lagi, masukan tersebut sangat bagus bagi penyempurnaan;
3. Naskah, alur cerita sejarah, ada baiknya diminta masukan dari sejarahwan, supaya sebisa mungkin mendekati fakta sejarah yang ada. Selanjutnya, bila sudah pas, agar dibakukan dan dibukukan. Tujuannya agar kisah ini bisa dimainkan ulang oleh berbagai pihak. Karena terus terang, pementasan cerita sejarah yang "serius" semacam ini sangat dibutuhkan untuk mengimbangi berbagai lakon di TV yang saat ini semakin tidak karuan;
4. Pembakuan dan pembukuan cerita sejarah ini juga bertujuan, selain untuk kepentingan sejarah itu sendiri, juga untuk menampung apresiasi rasa nasionalisme, seni dan budaya sekaligus. Bahkan, tidak tertutup untuk dipentaskan di mancanegara. Kalau kita sebut misalnya contoh kisah-kisah drama dari Barat seperti Odipus, Godod, Antigone, dan lain-lain sudah di sadur ke berbagai bahasa di dunia dan dipentaskan dengan adaptasi berbagai budaya di berbagai belahan dunia ini. Drama Antigone, misalnya, sudah di pentaskan dengan sangat sukses oleh Ratna Sarumpaet dengan setting budaya Batak di Gedung Kesenian Jakarta beberapa tahun yang lampau;
5. Tentang rencana pementasan ini di Jakarta, kalau bisa, juga ke berbagai kota besar di Indonesia, semisal Bandung, Surabaya, dan lain-lain, bahkan di mancanegara;
6. Kalau jadi pentas di Jakarta, saya berjanji akan menontonnya!