Say HORAS! To Greet The World

Friday, January 27, 2012

Opera Batak

Sisingamangaraja XII

Opera Batak      : Pahlawan Sisingamangaraja XII
Pelakon            : Siswa Siswi Sekolah Menengah Atas Seminari Menengah Christus Sacerdos,         Pematang  Siantar, SumateraUtara
Pemeran Utama : Ari Saragih
Pendukung        : Paduan Suara SMA Budi Mulia, SMA Bintang Timur, SMA Asisi                       Pematang              Siantar
Pelatih Bahasa   : Pastor Petrus Simarmata
Naskah               : Serpulus Tano Simamora
Tata Rias            : Risma Roharta Damanik
Penata Musik     : Panjotik Silaen
Tempat               : Taman Budaya Sumatera Utara, Medan
Sutradara            : Sultan Saragih


Saat Remaja Memanggungkan Sisingamangaraja XII
Oleh: Aufrida Wismi Warastri
    Memanggungkan sebuah cerita kepahlawanan dalam balutan seni tradisi seperti opera Batak bukanlah perkara gampang, apalagi jika dilakukan para remaja berusia sekitar 15-17 tahun.
     Namun, penampilan para siswa Sekolah Menengah Atas Seminari menengah Christus Sacerdos, Pematang Siantar, Sumatera Utara, (SMA SMPS) dalam Opera Batak : Pahlawan Sisingamangaraja XII) di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Medan, akhir tahun lalu, membuat ratusan penonton yang memenuhi gedung TBSU tak beranjak hingga pertunjukan selama 2,5 jam itu usai.
     Apalagi, penonton disuguhi gondang dan paduan suara SMA SMPS yang enak didengar. Ini masih ditambah penampilan yang juga didukung para siswa SMA Budi Mulia, SMA Bintang Timur, dan SMA Assisi Pematang Siantar. Jumlah penampil total 96 orang, termasuk pemusik dan kelompok koor.
     Bagi masyarakat Batak, khususnya Batak Toba, Sisingamangaraja (SM Raja) XII bukan hanya seorang pahlawan yang diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional. Dia adalah pahlawan yang ada di hati masyarakat Batak sehingga keberadaannya sering dikultuskan sebagai sosok sakti nan magis.
     Dalam opera Batak kali ini, SM Raja XII digambarkan sebagai manusia lumrah yang berkarisma. Dia mampu menyatukan banyak orang untuk berjuang melawan Belanda. Sosok pemberani ini kemudian tewas ditembak tentara Belanda karena penghianatan panglimanya sendiri.


Bahasa Batak Toba
     Seluruh cerita pertunjukan ini menggunakan bahasa Batak Toba, kecuali dialog tentara Belanda yang menggunakan bahasa Indonesia. Banyak ungkapan dalam bahasa Batak lama yang dilafalkan dengan “fasih” oleh para siswa SMA berkat pelajaran dan latihan yang diberikan anggota staf SMA SMPS, Pastor Petrus Simarmata.
     “Saya heran mereka bisa melafalkan dengan baik. Banyak bahasa yang bahkan sudah tidak saya pahami,” tutur Agustinus Zulkarnain Sitompul, alumnus SMA SMPS dan juga pemrakarsa pentas di kota Medan.
     Mereka yang mengerti bahasa Batak “setengah-setengah” dipastikan bakal membutuhkan penerjemah…
     Adegan demi adegan bergulir sesuai dengan cerita sejarah SM Raja XII. Penulis naskah, Serpulus Tano Simamora, taat pada pakem. Cerita dimulai dengan adanya laporan peperangan yang sengit di wilayah Balige. Pasukan Belanda semakin mendekat ke Bakkara (ibukota kerajaan, Bataica).
     “Oppung, ngarobe si bontar mata i,” tutur seorang pengikut SM Raja yang melaporkan si mata putih (Belanda) sudah datang.
     SM Raja digambarkan seperti dalam foto pahlawan nasional, berbadan tegap dan berewokan. Tampaknya sutradara Sultan Saragih kesulitan menemukan pemeran berperawakan besar.
Namun Ari Saragih, siswa kelas IX yang berperawakan kecil mampu menampilkan SM Raja sebagai tokoh cukup berwibawa serta bisa merangkul tentara Aceh dan Padang agar turut berjuang bersama pasukan SM Raja.
     Adegan Gondang Sabangunan atau gondang memohon rida dari Mula Jadi Nabolon (Yang Maha Kuasa) sebelum pertempuran melawan penjajah cukup membuat penonton kagum. Para siswa sekolah menengah itu manortor dengan gerakan yang sangat halus.
     Meskipun SM Raja XII telah mengingatkan jangan ada penghianatan, tetap saja panglima SM Raja, Ompu Somahap Doli, bersama istrinya, Ompu Somahap Boru, memilih berkhianat. Jadilah adegan selanjutnya adalah pertikaian antara pengkhianat dan pejuang dan bagaimana tentara Belanda mengintimidasi para panglima SM Raja yang tertangkap.
     Di sisi lain, adegan lucu pun ditampilkan dalam dialog antara penduduk dan tentara Belanda yang tengah mencari para panglima SM Raja.
Adegan mencapai klimaksnya saat SM Raja XII ditembak oleh tentara Belanda di hutan Aek Simonggo, Sionomhudon, Parlilitan. SM Raja XII tewas setelah putri yang dikasihinya, Siboru Lopian, tewas.
     Jasad SM Raja XII diusung tentara Belanda berkeliling panggung diiringi suara koor SMA SMPS yang membawakan “Goarmi Mangolu Do” atau Namamu Tetap Hidup, yang diaransemen Panjotik Silaen dengan bagus. Adegan ini mampu mengiris hati hadirin yang pada dasarnya adalah penonton fanatik.

Empat bulan
     Secara keseluruhan, para siswa SMA itu berhasil menampilkan opera Batak dengan menarik setelah empat bulan berlatih keras. Tata rias yang dilakukan Rima Roharta Damanik juga mendukung opera.
Sayang, tata cahaya, terutama lampu sorot yang diharapkan bisa membuat fokus adegan, justeru sering mengganggu penonton karena tidak konsisten.
Para pemusik gondang dan aggota koor yang menjadi pendukung cerita seolah diabaikan dengan menempatkan mereka di bagian kanan-kiri penonton. Posisi mereka pun rata dengan penonton.
Rasanya akan lebih baik jika mereka ditempatkan di panggung kecil di kanan-kiri panggung. Lampu sorot yang ditujukan kepada mereka pun justeru terasa mengganggu karena beberapa penonton jadi ikut terkena lampu sorot. (huruf tebal, Bataica)
     Meskipun para aktor opera Batak adalah calon pastor, para pendukung acara tersebut berasal dari lintas agama dan lintas gereja.
     Sebelum pentas di Medan, para siswa ini telah pentas di Pematang Siantar. Mereka juga berencana pentas di Jakarta untuk mencari dana guna renovasi sekolah mereka yang rusak, pada petengahan 2012.
     Melihat pertunjukan ini, ada rasa bangga. Ternyata masih banyak anak muda yang mencintai budaya sendiri.
(AUFRIDA WISMI WARASTRI)
HARIAN KOMPAS, Jumat, 27 Januari 2012


Horas,

1 comment:

  1. Catatan Bataica:
    1. Salut dan ucapan terima kasih kepada para pihak dan para pendukung terselenggaranya pementasan Opera Batak ini;
    2. Masukan dari Sdr. Aufrida Wismi Warastri/KOMPAS sangat baik untuk perbaikan ke depan. Kekurangan dalam pementasan ini sebagaimana dilaporkan di atas, memang dapat dimaklumi karena para pendukung bukanlah professional, tapi 'hanyalah para remaja' yang mencintai sejarah pahlawan dan budayanya. Sekali lagi, masukan tersebut sangat bagus bagi penyempurnaan;
    3. Naskah, alur cerita sejarah, ada baiknya diminta masukan dari sejarahwan, supaya sebisa mungkin mendekati fakta sejarah yang ada. Selanjutnya, bila sudah pas, agar dibakukan dan dibukukan. Tujuannya agar kisah ini bisa dimainkan ulang oleh berbagai pihak. Karena terus terang, pementasan cerita sejarah yang "serius" semacam ini sangat dibutuhkan untuk mengimbangi berbagai lakon di TV yang saat ini semakin tidak karuan;
    4. Pembakuan dan pembukuan cerita sejarah ini juga bertujuan, selain untuk kepentingan sejarah itu sendiri, juga untuk menampung apresiasi rasa nasionalisme, seni dan budaya sekaligus. Bahkan, tidak tertutup untuk dipentaskan di mancanegara. Kalau kita sebut misalnya contoh kisah-kisah drama dari Barat seperti Odipus, Godod, Antigone, dan lain-lain sudah di sadur ke berbagai bahasa di dunia dan dipentaskan dengan adaptasi berbagai budaya di berbagai belahan dunia ini. Drama Antigone, misalnya, sudah di pentaskan dengan sangat sukses oleh Ratna Sarumpaet dengan setting budaya Batak di Gedung Kesenian Jakarta beberapa tahun yang lampau;
    5. Tentang rencana pementasan ini di Jakarta, kalau bisa, juga ke berbagai kota besar di Indonesia, semisal Bandung, Surabaya, dan lain-lain, bahkan di mancanegara;
    6. Kalau jadi pentas di Jakarta, saya berjanji akan menontonnya!

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Google+ Badge